| Posted at 04:45 AM on June 03, 2009 |
Pendidikan di Indonesia memang masih dapat di katakan sux sekali mengingat berdasarkan fakta di lapangan, tahun 2009 sekitar 19 SMA di Indonesia yang para pesertanya 100% tidak lulus Ujian Akhir Nasional atau Ujian Nasional (Jawa Pos, 31 Mei 2009). Saya dapat memaklumi jika 100% ketidaklulusan tersebut karena gempa bumi, banjir,atau kiamat sekalipun yang biasa di sebut overmacht atau daya paksa, tetapi kali ini yang menjadi sumber ketidaklulusan 100% adalah karena beredarnya kunci jawaban palsu dan semua siswa-siswi harapan bangsa tersebut dengan sigap copy paste. Entah apa yang ada di benak mereka ketika mengerjakan ujian nasional dengan mengopy "jawaban" tersebut, dan yang fatal adalah, mengapa mereka tidak cek and ricek terlebih dahulu dengan soal. Lain soal lain jawaban, walhasil akhirnya mereka memasuki babak baru di dalam dunia pendidikan mereka, yaitu babak belur.
Saya juga menaruh keyakinan, andaikata kecurangan ini berakibat 100% siswa lulus, maka yang terjadi adalah "diam adalah emas" diantara baik siswa maupun para guru di sekolah tersebut. Bibit-bibit curang ini rupanya telah di mulai sejak SMA, lalu bagaimana jika terbawa hingga kebangku perkuliahan?. Satu hal yang perlu di cermati dalam pemberitaan,bahwasannya jawaban yang salah itu beredar melalui sms "gelap" kepada para siswa. Saya sempat tertegun menyaksikan ada sms "jawaban" beredar masuk melalui sms, dengan kata lain handphone mereka aktif, jika handphone mereka aktif maka handphone tersebut di bawa ke dalam kelas, jika handphone berada di dalam kelas berarti PENGAWAS UJIAN lengah dengan tidak memeriksa kondisi handphone siswa aktif atau tidak. Kalau saya tidak pikun, di salah satu poin peraturan ujian nasional di dalam kelas mensyaratkan "alat komunikasi harap di non aktifkan", mungkin para pengawas bisa saja telah berkata "kami telah memberitahu agar dimatikan", tugas pengawas adalah mengawasi ujian tapi mungkin hanya formalitas belaka, kelengahan ini saya pikir bukan merupakan sebuah hal yang dapat dikategorikan biasa, karena berdasarkan fakta di lapangan,para pengawas ujian sering kali ada yang tidur, baca koran, atau malah keluar kelas untuk merokok. Ironis bukan......
Mentalitas pelajar juga perlu dipertanyakan, mengapa dengan profesional mereka dapat mengopy jawaban tersebut dengan asas "kepercayaan" dan asas "praduga tak bersalah", yang berarti semua jawaban sms itu dapat dipercaya dan dianggap jawaban benar sampai ada yang menyalahkannya,dan terbukti asas "kepercayaan" dan asas "praduga tak bersalah" itu berbalik menyerang mereka, karena scanner Dinas Pendidikan membuktikan bahwa jawaban mereka semua sama dan salah semua. Tidak menutup kemungkinan kepercayaan para siswa ini dikarenakan sebelum ujian berlangsung, rumor akan beredarnya kunci jawaban ketika UAN sudah mereka dapatkan, dan sekali lagi mereka mempercayai hal tersebut.
Atas kebijakan Dinas Pendidikan, diadakan ujian ulangan pada 8 Juni2009. Hal ini sungguh aneh, ujian atas dasar kecurangan yang mengakibatkan siswa 100% tidak lulus harus ditebus dengan ujian ulangan, sedangkan di tempat lain ada segelintir siswa yang tidak lulus karena sakit atau alasan yang lebih terhormat tersebut tidak di adakan ujian ulang. Jelas hal ini tidak di benarkan karena tidak ada landasan baik materiil maupun formil untuk melaksanakan ujian ulangan atas dasar" siswa tidak lulus 100%". Ada kejadian lucu, salah seorang siswi SMAN 2 Ngawi dengan tegas menyatakan bahwa ada sabotase dalam hal ketidaklulusan ini. Menurut dia ada pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin menjatuhkan SMAnya itu. Pendapat demikian sah-sah saja, tetapikita juga harus tahu bahwa semua jawaban ujian milik sekolah tersebut adalah sama semua.
Ada 1 hal yang bagi saya merupakan sesuatu yang dapat dijadikan bukti bahwasannya tidak perlu diadakan ujian ulangan. Bukti tersebut adalah berita acara.Tidak ada satupun berita acara dalam ujian menyatakan bahwa "telah ada kecurangan pada kelas...." atau " ditemukan sabotasepada....." atau bla...bla..bla....Dengan kata lain, tidak ada alasan pembenar dan pemaaf untuk diadakan ujian ulang tersebut, karena ujian tersebut berjalan dengan aman dan terkendali.
Faktor sekolah juga mempengaruhi hal tersebut. Jika kita masih ingat dengan laporan tim "Air Mata Guru" yang menelanjangi sekolah-sekolahyang mempunyai tim sukses dalam menempuh ujian (jadi sebenarnya yang "ujian" guru-gurunya) dari Medan. Salah satu fakta yang mengejutkan adalah, ketika pelaksanaan ujian berlangsung, dengan tanpa permisi,oknum guru masuk dan berpidato tentang kunci jawaban siswa tanpa menghiraukan pengawas di tempat itu. Murid tidak bisa di salahkan sepenuhnya jika keadaan secara terstruktur telah membuka kesempatan terjadi kecurangan. Jadi siapa yang salah sebenarnya????????????????
*nelpon advokat agar bersiyap jika kejaksaan dan kepolisian "mengawe-ngawe" ogut seperti kasus Prita dan OMNI*
Categories: Curahan Hati